Jumat, 08 November 2013

Asuhan Keperawatan Pada Tn. Y Dengan Gangguan Harga Diri Rendah

0
BAB I
PENDAHULUAN


A.      LATAR BELAKANG
Kesehatan jiwa merupakan suatu kebutuhan tiap individu yang sangat penting. Oleh karena itu kesehatan jiwa harus juga diperhatikan. Selain hal ini merupakan peran petugas kesehatan, tetapi merupakan hal yang menuntut adanya keselarasan dan kerja sama dari berbagai pihak selain individu itu sendiri, keluarga maupun lingkungan.
Dari berbagai masalah kesehatan jiwa, gangguan konsep diri dengan harga diri rendah banyak mengiringi penyakit-penyakit gangguan jiwa. Bila hal ini terjadi, terkadang dapat menimbulkan dampak yang buruk pada diri pasien sendiri maupun orang lain  di sekitarnya. Oleh karena itu kami mencoba untuk melakukan Asuhan Keperawatan Pada Tn. Y Dengan Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah  agar mengalami perubahan yang di harapkan

B.       TUJUAN PENULISAN
a)                  Tujuan khusus
Tujuan utama dari penulisan makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas individu mata kuliah Keperawatan jiwa
b)                  Tujuan umum
-       Menerapkan teori dan lebih menekankan dalam mempraktekan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, perencanaan, tindakan dan evaluasi
-       Dapat mengetahui cara merawat klien dengan isolasi sosial

C.      METODE PENULISAN
Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan laporan ini adalah
  1. Wawancara     : Dilakukan pada pada klien, keluarga klien dan perawat ruangan
  2. Observasi        : Pengamatan pasien selama proses keperawatan
  3. Perpustakaan   : Catatan medis dan mata kuliah keperawatan jiwa
BAB II
KONSEP DASAR

A.      MASALAH UTAMA
Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah
B.       PROSES TERJADINYA MASALAH
1.    Pengertian
Haraga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisa seberapa baik perilaku seseorang  sesuai dengan diri sendiri tanpa syarat, walaupun melakukan kesalahan, kekalahan dan kegagalan, tetap merasa sebagai seseorang yang penting dan berharga.
Harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri sendiri atau kemampuan diri yangnegatif yang dapat secara langsung atau tidak langsung diekspresikan. (Towsend, 1998).
Harga diri rendah adalah menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan tidak dapat bertanggung jawab atas kehidupan sendiri, gagal menyesuaikan tingkah laku dancita – cita. (Fk.UNDIP , 2001 )
Kesimpulan harga diri rendah adalah perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang percayaan diri, harga diri serta menolak dirinya. Tidak dapat bertanggung jawab atas kehidupan sendiri serta gagal dalam menyesuaikan tingkah laku dan cita-cita.
2.      Tanda-tanda klien dengan harga diri rendah adalah :
a.       Perasaan malu terhadap diri sendiri adalah akibat penyakit dan akibat tindakan terhadap penyakit.
b.      Rasa bersalah terhadap diri sendiri
c.       Merendahkan martabat
d.      Gangguan hubungan sosial seperti menarik diri
e.       Percaya diri kurang
f.       Menciderai diri
(Stuart dan Sudden ; 1998, hal 230)
3.      Faktor-faktor
a.       Faktor predisposisi
1.      Penolakan orang tua
2.      Harapan orang tua yang tidak realistis
3.      Kegagalan yang berulang kali
4.      Kurang mempunyai tanggung jawab personal
5.      Ketergantungan kepada orang lain
6.      Ideal diri tidak realistis
b.      Faktor presipitasi
1.      Citra tubuh yang tidak sesuai
2.      Keluhan fisik
3.      Ketegangan peran yang dirasakan
4.      Perasaan tidak mampu
5.      Penolakan terhadap kemampuan personal
6.       Perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri

C.    POHON MASALAH



 D.    MASALAH KEPERAWATAN
1.      Isolasi Sosial : Menarik diri
Data :
a.    Apatis (acuh terhadap lingkungan)
b.    Komunikasi verbal menurun atau tidak ada. Klien tidak bercakap-cakap dengan klien lain atau perawat
c.    Mengisolasi diri (menyendiri)
d.   Tidak atau kurang sadar dengan linkungan sekitarnya
e.    Menolak hubungan dengan orang lain
f.     Aktifitas menurun
g.    Harga diri rendah
2.      Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
Data :
a.    Malu terhadap diri sendiri akibat penyakit
b.    Rasa bersalah terhadap diri sendiri
c.    Merendahkan martabat
d.   Gangguan hubungan sosial : menarik diri
e.    Percaya diri kurang
f.     Menciderai diri

E.       DIAGNOSA KEPERAWATAN
  1. Isolasi sosial : Menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
  2. Gangguan konsep diri : Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tidak efektif
F.       RENCANA KEPERAWATAN
1.    Isolasi sosial : Menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
§  Tujuan umum
Klien tidak menarik diri dan mampu berhubungan dengan orang lain secara optimal
§  Tujuan khusus
TUK 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya
o  Kriteria hasil
Ekspresi wajah bersahabat, tidak acuh, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau bercakap-cakap dan mengutarakan masalah yang dihadapi
o  Intervensi
Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip hubungan therapeutik
1.    Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
2.    Perkenalkan diri dengan sopan
3.    Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggialan yang disukai klien
4.    Jelaskan tujuan pertemuan
5.    Jujur dan menepati janji
6.    Selalu kontak mata selama interaksi
7.    Tunjukan sikap empati dan penuh perhatian pada klien

TUK 2 : Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
o  Kriteria hasil
Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
o  Intervensi
1.    Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
2.    Bantu klien mengekspresikan dan menggambarkan perasaan serta pikirannya
3.    Tekankan bahwa kekuatan untuk berubah tergantung pada klien sendiri
4.    Identifikasi stresor yang relevan dan penilaian klien terhadap stresor tersebut
5.    Dukung kekuatan, ketrampilan dan respon koping yang efektif
6.    Utamakan memberi pujian therapeutik
7.    Tingkatkan keterlibatan keluarga dan kelompok untuk memberikan dukungan untuk mempertahankan kemajuan dan perkembangan klien

TUK 3 : Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan
o  Kriteria hasil
Klien menilaim kemampuan yang digunakan
o  Intervensi
1.    Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan
2.    Dukung kekuatan, ketrampilan dan respon koping yang adaptif
3.    Utamakan memberi pujian therapeutik
4.    Libatkan keluarga dalam perawatan klien

TUK 4 : Klien dapat merencanakan kegiatan harian
1.      Dukung klien untuk merencanakan kegiatan harian
2.  Rencanakan kegiatan bersama klien, aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan (kegiatan sendiri, kegiatan dengan bantuan sebagian, kegiatan dengan bantuan total)
3.      Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
4.      Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh dilakukan
5.      Libatkan keluarga dalam perawatan klien

TUK 5 : Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuannya
o  Kriteria hasil
Klien melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi dan kemampuannya
o  Intervensi
1.    Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
2.    Beri pujian atas keberhasilan klien
3.    Beri dukungan yang sesuai dan positif untuk mempertahankan kemajuan dan pertumbuhannya
4.    Libatkan keluarga dalam perawatan klien

TUK 6 : Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
o  Kriteria hasil
Klien memanfaatkan sistem pendukung yang ada
o  Intervensi
1.    Berikan pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah
2.    Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
3.    Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah sesuai dengan keadaan klien



     STRATEGI PELAKSANAAN KEPERAWATAN
Pertemuan : Ke-I (satu)

Mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien, membantu pasien menilai kemampuan yang masih dapat digunakan membantu pasien memilih atau menetapkan  kemampuan yang akan dilatih, melatih kemampuan yang telah dipilih dan menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang telah dilatih dalam rencana harian.
1.      Orientasi :
- Salam terapeutik : “Assalamu’alaikum,
            - Validasi : bagaimana keadaan Tn. Y, hari ini? Tn.  terlihat segar ”
            - Kontrak :
              Topik :“Bagaimana, kalau kita bercakap-cakap tentang bagaimana cara membina hubungan saling percaya? Tn. Bisa menyebutkannya.?nanti setelah itu kita lakukan bersama.”
             Tempat :“Tn. mau kita bicara dimana? Bagaimana kalau di ruang tamu? Berapa lama?
             Waktu : “ Bagaimana kalau 15 menit?
2.      Kerja :
“Tn. Y, apa saja cara membina hubungan saling percaya Tn.? Bagus, apa lagi? Apa saja yang Tn. Lakukan selain itu yang biasa Tn. lakukan? Bagaimana dengan berjabat tangan? Menanyakan nama? Menanyakan alamat……..dst.”. “Wah, bagus sekali ada lima cara untuk membina hubungan saling percaya yang Tn. lakukan.”
“Tn. Y, dari lima cara ini, yang mana yang Tn. bisa lakukan di rumah sakit? Coba kita lihat, yang pertama bisakah, yang kedua……sampai yang kelima (misalnya masih tiga yang masih bisa dilakukan). Bagus sekali masih ada tiga cara yang masih bisa lakukan di rumah sakit ini.
“Sekarang, coba Tn. Y pilih satu cara yang bisa dilakukan di rumah sakit ini”. “O, ya nomor satu,berjabat tangan? Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita berlatih berjabat tangan Tn.”. Mari kita lakukan dengan saya Tn. Y. coba, sudah bisa kan berjabat tangan / memperkenalkan diri?”
“Nah kalau kita mau berjabat tangan, mari kita dekati orang yang ingin Tn. ingin berjabat tangan dan memperkenalkan diri. Bagus! Sekarang duduk berdampingan, ya Bagus! Nah sekarang kita ucap salam, ya Bagus! Sekarang kita sebut nama dan alamat. ya bagus!.”
“Tn. Y sudah bisa berjabat tangan dan memperkenalkan diri dengan baik sekali. Sekarang bedakan dengan sebelum Tn. mengenalinya? Bagus!”
3.      Terminasi :
-       Evaluasi Subjektif
  “Bagaimana perasaan Tn. Y setelah bercakap-cakap dan berjabat tangan / memperkenalkan diri? Yah, Tn. ternyata banyak yang dapat dilakukan di rumah sakit ini. Salah satuny memperkenalkan diri, yang sudah Tn. praktekan dengan sekali.
-       Evaluasi Objektif
 “Klien mampu duduk berdampingan,menjawab salam, danmenyebutkan nama.”
-       Rencana tindakan lanjut
”Bagaimana kalau kegiatan itu Tn. lakukan selama disini dan nanti kegiatan tersebut tetap Tn. lakukan dirumah, kalau begitu kita buat jadwalnya saja ya Tn?biar Tn. tidak lupa.
-       Kontrak
Topik :  “Besok kita akan membicarakan tentang kemampuan dan aspek positif yang Tn. miliki.
Tempat : “Tn mau kita berbincang – bincang dimana.?
Waktu : “Mau berapa lama Tn.?”bagaimana kalu 15 menit?setuju?“ sampai jumpa ya”


STRATEGI PELAKSANAAN KEPERAWATAN
Pertemuan : Ke-2 (Dua)

Melatih pasien melakukan kegiatan lain yang sesuai dengan kemampuan pasien

1.    Orientasi :
-       Salam theraupetik : “Assalammua’alaikum,
-       Validasi :“ Bagaimana perasaan Tn. Y pagi ini? Apakah masih ingat tentang apa yang kita lakukan kemarin?Bagus! Coba diulang lagi? Bagus sekali!
-       Kontrak :         
Topik :“Sekarang kita akan lakukan kegiatan kedua. Masih ingat apa kegiatan itu Tn?”
“Ya banar, kita akan membicarakan kemampuan dan aspek positif yang Tn. miliki.”
               Tempat :“Bagaimana kalau kita bicara ditaman?.”
               Waktu :“Bagaimana kalu 15 menit?.”

2.    Kerja :
“Tn. Y, tadi telah mengungkapkan hal hal yang dapat Tn. lakukan?, masih ada yang lain? Sekarang kita coba pilih kemampuan bapak yang dapat Tn. lakukan disini.”.
3.    Terminasi :
- Validasi Subjekti :
      “Bagaimana perasaan Tn.  setelah tahu dan mencoba kegiatan yang dapat Tn. lakukan disini? Bagus!”
- Validasi Objektif :
      “Klien sudah mampu melakukan beberpa aspek positif yang dimiliki”
- Rencana tindakan lanjut :
      “Saya harap Tn. mau mencoba melakukan kegiatan selama disini.”
- Kontrak :
              Topik :“Tn. pertemuan ini sampai disini dulu, besok kita mengobrol lagi dengan keluarga apabila datang.”
              Tempat : “Bagaimana kalau diruang tamu saja?”
              Waktu :“Biasanya keluarga Tn. jenguk jam berapa? Baiklah kita diskusikan nanti ya. Sampai jumpa.”

















BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. Y DENGAN GANGGUAN HARGA DIRI RENDAH

Tanggal Pengkajian                 : 11 Januari 2013
Tanggal Masuk                        : 05 November 2012
Ruang                                      : Perkasa
       I.            PENGKAJIAN
A.    Identitas Klien
Nama                                 : Tn. Y
Umur                                 : 31 Tahun
Alamat                              : Klaten
Status Perkawinan            : Belum Menikah
Agama                               : Islam
Suku/Bangsa                     : Jawa / Indonesia
Pendidika                          : SMP
Pekerjaan                           : Petani
No. CM                             : 01xxxx
B.     Penanggung Jawab
Nama                                 : Ny. P
Hubungan dengan Klien   : Ibu Kandung
Alamat                              : Klaten
    II.            KELUHAN UTAMA
Klien mengatakan disuruh ibunya untuk melanjutkan berobat, sering menyendiri dikamar, bicara sedikit, sulit komunikasi.
 III.            ALASAN MASUK
2 bulan sebelum masuk RSJ klien sering menyendiri, membakar barang, bicara sedikit, sulit kominikasi, bicara sendiri dan sulit tidur.


 IV.            FAKTOR PREDISPOSISI
1.      Klien pernah mengalami gangguan jiwa ±3 tahun yang lalu, pernah rawat jalan di RSJD.SOEDJARWADI KLATEN.
2.      Kontrol tidak rutin, pengobatan kurang berhasil
3.      Klien mengatakan bahwa didalam keluarganya tidak ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa.
4.      Klien mempunyai pengalaman masalalu yang tidak menyenangkan yaitu ia jatuh dari sepeda.
    V.            PEMERIKSAAN FISIK
A.    Tanda – tanda vital           :
ü  Tekanan darah                   : 130/80 mmHg
ü  Nadi                                  : 84 x/menit
ü  Suhu                                  : 36,5 ºC
ü  Pernafasan             : 26 x/menit
B.     Ukuran                              :
ü  Tinggi badan                     : 179 cm
ü  Berat badan                       : 62 Kg
C.     Kondisi Fisik                     :
Klien tidak mengeluh sakit apa – apa, tidak ada kelainan fisik.


 VI.            PSIKOSOSIAL
A.    Genogram















           B.     Konsep Diri
ü  Citra Tubuh : Klien mengatakan bagian tubuh yang paling disukai adalah mata karena bisa melihat.
ü  Identitas      : Klien mengatakan anak ke-2 dari 3 bersaudara.
ü  Peran            : Klien mengatakan di dalam keluarganya atau dirumah sebagai anak.
ü  Ideal diri      : Klien mengatakan ingin cepat sembuh dan pulang, merasa bosan dan ingin bekerja lagi.
ü  Harga diri    : Klien mengatakan malu berhadapan langsung dengan orang lain selain ibu dan adiknya,klien merasa tidak pantas jika berada diantara orang lain, kurang interaksi sosial.
Masalah Keperawatan : harga diri rendah
C.   Hubungan Sosial
ü Orang yang dekat dengan klien adalah ibu dan adiknya.
ü Peran serta kelompok / masyarakat : sebelum klien sakit sering mengikuti gotong royong didesanya.
ü Hambatan dalam hubungan dengan orang lain: selama klien rawat jalan / berobat jalan temannya berkurang karena klien malu berkomunikasi.
Masalah Kepeawatan : Menarik diri
D.  Spiritual
Klien mengatakan jarang sholat dalam 5x sehari, jika sholat klien shabis sholat klien berdoa agar cepat sembuh.
VII.            STATUS MENTAL
A.  Penampilan   : Penampilan klien kurang rapi, rambut jarang disisir, klien menggunakan baju yang disediakan diRSJ.
B.   Pembicaraan : Klien berbicara lambat tetapi dapat tercapai dan dapat dipahami.
C.   Aktivitas Motorik : Klien labih banyak menunduk, aktivitas klien menyesuaikan.
D.  Alam perasaan : Klien mengatakan bosan diRSJ ingin cepat sembuh dan pulang, klien sedih belum bisa bertemu ibu.
E.   Afek             : Klien tidak sesuai dalam berfikir, bicara klien lambat
F.      Interaksi selama wawancara         : Kontak mata kurang karena menunduk,sesekali klien menengadah,selalu menjawab jika ditanya.
G.    Persepsi     : Halusinasi saat pengkajian tidak ditemukan.
H.    Pola Fikir   : Tidak ada waham.
I.       Tingkat kesadaran : Klien sadar hari, tanggal dan waktu saat pengkajian, hari jum’at tanggal 11 januari 2013 jam 16.30 WIB,hari berikutnya juga klien sadar hari sabtu tanggal 12 januari 2013.
J.       Memori      : Daya ingat jangka panjang klien masih ingat masa lalunya.
K.    Tingkat konsentrasi dan berhitung            : Klien berhitung lancar, contoh 20 – 15= 5
L.     Kemampuan Penilaian      : Klien mampu menilai antara masuk kamar setelah makan atau membiarkan kursi tidak rapi, klien memilih membereskan kursi.
M.   Daya Tilik Diri      : Klien tahu dan sadar bahwa dirinya dirumah sakit jiwa.
VIII.            KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG
1.      Makan
Klien makan 3x sehari, pagi, siang, sore, minum ± 6 gelas / hari, mandiri.
2.      BAB / BAK
Klien BAB 1x sehari, BAK  ± 4x sehari, mandiri.
3.      Mandi
Klien mandi 2x sehari, pagi dan sore, gosok gigi setiap kali mandi, mandiri.
4.      Berpakaian / berhias
Klien mampu berpakaian sendiri tanpa bantuan orang lain.
5.      Istirahat dan Tidur
Klien lebih banyak tiduran, tidur siang 12.30 WIB15.00 WIB,tidur malam jam 20.00WIB 04.30 WIB.
6.      Penggunaan obat
Klien minum obat 3x sehari setelah makan. Haloperidol 2x5 mg, trihexiperidine 2x2 mg.
7.      Pemeliharaan Kesehatan
Klien sudah pernah periksa diRSJD SOEDJARWADI KLATEN tetapi rawat jalan.
8.      Kegiatan di Dalam Rumah
Klien dirumah membantu orang tua mengerjakan pekerjaan rumah
 IX.            MEKANISME KOPING
A.    Klien mampu berbicara dengan orang lain,terlihat malu
B.     Klien mampu menjaga kebersihan diri sendiri
C.     Klien mampu jika ada masalah tidak menceritakan kepada orang lain,lebih suka diam.
Masalah Keperawatan : Koping Individu Tidak Efektif.
    X.            MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN
A.    Masalah berhubungan dengan lingkungan            : Klien menarik diri dari lingkungan
B.     Masalah dengan kesehatan (-)
C.     Masalah dengan perumahan          :Klien tinggal dengan kedua orang tua dan 2 saudaranya.
D.    Masalah dengan Ekonomi : Kebutuhan klien dipenuhi oleh ibunya.




 XI.            ASPEK MEDIK
A.    Diagnosa Medis
Schizofrenia
B.     Terapi
-          Haloperidol 2x5 mg
-          Trihexiperidine 2x2 mg

XII.            MASALAH KEPERAWATAN
A.    Harga Diri Rendah
B.     Menarik Diri
C.     Koping Individu Tidak Efektif

XIII.            POHON MASALAH



XIV.            DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Menarik Diri b/d Harga Diri Rendah
2.      Harga Diri Rendah b/d Koping Individu Tidak Efektif
XV.            ANALISA DATA
No

Data
Etiologi
Problem
1.
Ds :
-          Klien mengatakan sering menunduk, kurangnya interaksi sosial
Do “
-          Klien tampak menyendiri
Harga diri Rendah
Menarik Diri
2.
Ds :
-          Klien mengatakan reman berkurang semenjak sakit
-          Klien malu dengan teman karena klien merasa tidak pantas diantara mereka
Do :
-          Klien tampak malu saat berbicara

Koping Individu Tidak Efektif
Harga Diri Rendah


                        XVI.      RENCANA KEPERAWATAN
Tgl.

Dx.Keperawatan
Tujuan
Kriteria Hasil
Intervensi
14- 01-13
Menarik Diri berhubungan dengan harga Diri Rendah
TUM
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal.
TUK 1
Klien dapat membina hubungan saling percaya






·         Klien ekspresi wajah bersahabat.
·         Klien menunjukan rasa senang.
·         Klien mau kontak mata.
·         Klien mau berjabat tangan.
·         Klien mau membalas salam.
·         Klien mau duduk berdampingan.
·         dengan perawat.
·         Klien mau menyebut nama dan mau mengutaraka masalah yang dihadapi.






1.      Beri salam / panggil nama
2.      yang disukai
3.      Jelaskan BHSP dengan komunikasi terapeutik
4.      Memperkenalkan diri dengan sopan
5.      Tanyakan nama lengkap dan panggilan tujuan
6.      Jujur dan menepati janji
7.      Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya
8.       Lakukan kontak singkat tapi sering


TUK 2
Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
·         Klien mampu mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
·         Aspek positif keluarga
·         Aspek positif lingkungan yang dimilii klien
1.      Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
2.      Hindarkan dari penilaian yang negatif
3.      Utamakan pemberian pujian yang realistik


TUK 3
Klien dapat menilai kemampuan yang dimiliki
·         Klien mampu menilai kemampuan yang dimiliki selama sakit
1.      Diskusikan kemampuan yang dapat digunakan selama sakit
2.      Diskusikan kemampuan yang dapat ditunjukan penggunaannya


TUK 4
Klien dapat menetapkan perencanaan kegiatan sesuai dengan kemampuannya
·         Klien dapat membuat rencana kegiatan harian
1.      Rencanakan bersama klien aktifitas yang dapat dilakukan setiap hari
-          Kegiatan mandiri
-          Dibantu sebagian
-          Dengan bantuan total
2.      Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
3.      Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan


TUK 5
Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya
·         Klien melakukan kegiatan yang sesuai dengankondisi sakit dan kemampuannya
1.      Berikesempatan klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
2.      Beri pujian atas keberhasilan klien
3.      Diskusikan kemungkinan melaksanakan dirumah.


TUK 6
Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
·         Klien dapat memanfaatkan system pendukung dikeluarga secara optimal
·         Klien daoat memanfaatkan system pendukung dilingkungan sekitar.
1.      Beri pendidikan kesehatan cara perawatan klien dengan Harga Diri Rendah
2.      Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.

Harga Diri Rendah berhubungan dengan Koping Individu Tidak Efektif
TUM
Klien dapat melakukan keputusan yang efektif  untuk mengendalikan situasi kehidupan yang demikian menurunkan perasaan rendah diri
TUK 1
Klien dapat menbina hubungan terapeutik dengan perawat











·         Klien mampu duduk berdampingan dengan perawat
·         Klien mampu berbincang - bincang dengan perawat
·         Klien mampu merespon tindakan perawat











1.      Lakukan pendekatan dengan baik, menerima klien apa adanya dan bersikap empati
2.      Cepat mengendalikan perasaan dan reaksi perawatan diri sendiri misalnya rasa marah ,empati.
3.      Sediakan waktu untuk berdiskusi dan bina hubungan yang sopan.
4.      Berikan kesempatan kepada klien untuk merespon.


TUK 2
Klien dapat mengenali dan mengekspresikan emosinya
·         Klien dapat mengungkapkan perasaannya
·         Klien mampu mengenali emosinya dan dapat mengekspresikannya
1.      Tunjukan emosional yang sesuai
2.      Gunakan tekhnik komunikasi terapeutik terbuka,
3.      Bantu klien mengekspresikan perasaannya
4.      Bantu klien mengidentifikasikan situasi kehidupan yang tidak berada dalam kemampuan dan mengontrolnya
5.      Dorong untuk menyatakan secara verbal perasaan – perasaan yang berhubungan dengan ketidak mampuannya.


TUK 3
Klien dapat memodifikasi pola kognitif yang negative
·         Klien dapat mengidentifikasi pemikiran yang negatif
·         Klien dpat menurunkan penilaian yang negatifpada dirinya.
1.      Diskusikan masalah yang dihadapi klien dengan memintanya untuk menyimpulkannya
2.      Identifikasi pemikiran negatif klien dan bantu untuk menurunkan melalui interupsi dan substitusi
3.      Evaluasi ketetapan persepsi logika dan kesimpulan yang dibuat klien
4.      Kurangi penilaian klien yang negatif terhadap dirinya
5.      Bantu klien menerima nilai yang dimilikinya atau perilakunya atau perubahan yang terjadi pada dirinya.


TUK 4
Klien dapat berpartisipasi dalam mengambil keputusan yang berkenan dengan perawatan dirinya
·         Klien mampu menentukan kebutuhan untuk perawatan pada dirinya
·         Klien dapat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan
1.      Libatkan klien dalam menetapkan tujuan yang ingin dicapai
2.      Motivasi klien untuk membuat jadwal aktivitas perawatan dirinya
3.      Berikan privasi sesuai kebutuhan yang ditentukan
4.      Berikan reinsforcement posotif tentang pencapaian kegiatan yang telah sesuai dengan keputusan yang ditentukannya















  

                       XVII.   IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN
Tanggal / Jam
No
Implementasi
Evaluasi
15 Januari 2013
Jam 12.30
1.      Bina hubungan saling percaya dengan :
·         Menyapa klien dengan ramah
·         Memperkenalkan diri dengan sopan
·         Menanyakan nama lengkap serta alamat klien
·         Menunjukan sikap empati, jujur dan menempati janji
·         Menanyakan masalah yang dihadapi
S :
·         Klien menjawab salam dan mengatakan selamat pagi,menyebutkan nama dan alamat
O :
·         Klien mau berjabat tangan
·         Klien mau duduk berdampingan dengan perawat
·         Klien mau mengutarakan masalahnya
A : SP 1 tercapai
Pp :
Lanjutkan SP 2 adakan kontrak waktu pertemuan berikutnya.
Pk :
Anjurkan klien untuk dapat menyapa perawat jika bertemu dan percaya jika perawat akan membantu masalah yang dihadapi
15 Januari 2013
Jam 15.30

2.      Bina hubungan terapeutik dengan perawat dengan :
·         Pendekatan dengan baik ,menerima klien apa adanya
·         Mengidentifikasi perasaan dan reaksi perawatan diri sendiri
·         Menyediakan waktu untuk bina hubungan yang sopan
·         Menberikan kesempatan untuk merespon
S :
·         Klien mau duduk berdampingan dengan perawat
O :
·         Klien mampu berbincang – bincang dengan perawat
·         Klien mampu merespon tindakan perawat.
A : SP 2 tercapai
Pp :
Lanjutkan SP 3 adakan kontrak waktu pertemuan berikutnya.
Pk :
Anjurkan klien mampu berkomunikasi,mampu memulai berbicara dan tidak janggung.

16 Januari 2013
Jam 17.00

3.      Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif  yang dimiliki dengan :
·         Membantu mengidentifikasi dengan aspek yang positif
·         Mendorong agar berpenilaian positif
·         Membantu mengungkapkan perasaannya
S :
·         Klien mengatakan cara penilaian positif tidak boleh berfikir jelek terhadap orang lain,sopan santun dan ramah yang diutamakan.
O :
·         Klien dapat mengungkapkan perasaannya
A : SP 3 teratasi sebagian
Pp :
lanjutkan SP 1 keluarga
Pk :
Anjurkan klien untuk mempertahankan hubungan saling percaya berinteraksi secara terarah.











BAB IV
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Setelah penulis melakukan pengkajian dan perawatan pada Tn. Y dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah di Ruang perkasa Rumah Sakit Jiwa Daerah Klaten selama 2 minggu penulis dapat menarik kesimpulan bahwa dalam malakukan perawatan jiwa sangat penting sekali membina hubungan saling percaya dan juga membutuhkan kolaborasi yang baik dengan tenaga medis (dokter dan perawata), keluarga dan juga lingkungan (tetangga dan masarakat) terapeutik, agar semua maksud dan tujuan klien dirawat maupun perawat yang merawat tercapai.

B.     SARAN
1.      Klien
-          Libatkan klien dalam aktivitas positif
-          Minum obat secara rutin dengan prinsip 5B
-          Memahami aspek positif dan kemampuan yang dimilikinya
-          Berlatih untuk berinteraksi dengan orang lain
2.      Keluarga
-          Mau dan mampu berperan serta dalam pemusatan kemajuan klien
-          Membantu klien dalam pemenuhan aktivitas positif
-          Menerima klien apa adanya
-          Hindari pemberian penilaian negatif
3.      Perawat
-          Lebih mengingatkan terapi theraupetik terhadap klien
-          Menyarankan keluarga untuk menyiapkan lingkungan dirumah
-          Meningkatkan pemenuhan kebutuhan dan perawatan klien
-          Memberi reinforcement




DAFTAR PUSATAKA

Stuart, G.W. dan Sudeen, S.J. (1995). “Principles And Practice Of Psychiatric Nursing”. (6th ed). St. Louis : Mosby year book

Town send, M.C. (1998). “Diagnosa Keperawatan Psikiatri : Pedoman untuk pembuatan rencana keperawatan”. Jakarta : EGC (terjemahan).
Read More

Jumat, 01 November 2013

KOMPOSIT SERBUK KAYU PLASTIC DAUR ULANG : TEKNOLOGI ALTERNATIVE PEMANFAATAN LIMBAH KAYU DAN PLASTIK

0


KOMPOSIT SERBUK KAYU PLASTIC DAUR ULANG : TEKNOLOGI ALTERNATIVE PEMANFAATAN LIMBAH KAYU DAN PLASTIK
Oleh: Dina Setyawati
Email: d.setyawati@eudoramail.com


PENDAHULUAN

Karena sifat dan karakteristiknya yang unik, kayu merupakan bahan yang paling banyak digunakan untuk keperluan konstruksi. Kebutuhan kayu yang terus meningkat dan potensi hutan yang terus berkurang menuntut penggunaan kayu secara efisien dan bijaksana, antara lain dengan memanfaatkan limbah berupa serbuk kayu menjadi produk yang bermanfaat. Di lain pihak, seiring dengan perkembangan teknologi, kebutuhan akan plastik terus meningkat Sebagai konsekuensinya, peningkatan limbah plastikpun tidak terelakkan. Limbah plastik merupakan bahan yang tidak dapat terdekomposisi oleh mikroorganisme pengurai (non biodegradable), sehingga penumpukkannya di alam dikhawatirkan akan menimbulkan masalah lingkungan.

Perkembangan teknologi, khususnya di bidang papan komposit, telah menghasilkan produk komposit yang merupakan gabungan antara serbuk kayu dengan plastik daur ulang. Teknologi ini berkembang pada awal 1990-an di Jepang dan Amerika Serikat. Dengan teknologi ini dimungkinkan pemanfaatan serbuk kayu dan plastik daur ulang secara maksimal, dengan demikian akan menekan jumlah limbah yang dihasilkan. Di Indonesia penelitian tentang produk ini sangat terbatas, padahal bahan baku limbah potensinya sangat besar.

Tulisan ini akan memaparkan secara singkat mengenai potensi dan pemanfaatan limbah kayu, khususnya serbuk kayu, dan limbah plastik sebagai produk komposit serbuk kayu-plastik daur ulang.

POTENSI DAN PEMANFAATAN LIMBAH SERBUK KAYU

Kebutuhan manusia akan kayu sebagai bahan bangunan baik untuk keperluan konstruksi, dekorasi, maupun furniture terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Kebutuhan kayu untuk industri perkayuan di Indonesia diperkirakan sebesar 70 juta m3 per tahun dengan kenaikan rata-rata sebesar 14,2 % per tahun sedangkan produksi kayu bulat diperkirakan hanya sebesar 25 juta m3 per tahun, dengan demikian terjadi defisit sebesar 45 juta m3 (Priyono,2001). Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya daya dukung hutan sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan kayu. Keadaan ini diperparah oleh adanya komversi hutan alam menjadi lahan pertanian, perladangan berpindah, kebakaran hutan, praktek pemanenan yang tidak efisen dan pengembangan infrastruktur yang diikuti oleh perambahan hutan. Kondisi ini menuntut penggunaan kayu secara efisien dan bijaksana, antara lain melalui konsep the whole tree utilization, disamping meningkatkan penggunaan bahan berlignoselulosa non kayu, dan pengembangan produk-produk inovatif sebagai bahan bangunan pengganti kayu.
Patut disayangkan, sampai saat ini kegiatan pemanenan dan pengolahan kayu di Indonesia masih menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Purwanto dkk, (1994) menyatakan komposisi limbah pada kegiatan pemanenan dan industri pengolahan kayu adalah sebagai berikut :

1. Pada pemanenan kayu, limbah umumnya berbentuk kayu bulat, mencapai 66,16%

2. Pada industri penggergajian limbah kayu meliputi serbuk gergaji 10,6&. Sebetan 25,9% dan potongan 14,3%, dengan total limbah sebesar 50,8% dari jumlah bahan baku yang digubakan

3. Limbah pada industri kayu lapis meliputi limbah potongan 5,6%, serbuk gergaji 0,7%, sampah vinir basah 24,8%, sampah vinir kering 12,6% sisa kupasan 11,0% dan potongan tepi kayu lapis 6,3%. Total limbah kayu lapis ini sebesar 61,0% dari jumlah bahan baku yang digunakan.

Data Departemen Kehutanan dan Perkebunan tahun 1999/2000 menunjukkan bahwa produksi kayu lapis Indonesia mencapai 4,61 juta m3 sedangkan kayu gergajian mencapai 2,06 juta m3. Dengan asumsi limbah yang dihasilkan mencapai 61% maka diperkirakan limbah kayu yang dihasilkan mencapai lebih dari 5 juta m3 (BPS, 2000).
Limbah kayu berupa potongan log maupun sebetan telah dimanfaatkan sebagai inti papan blok dan bahan baku papan partikel. Adapun limbah berupa serbuk kergaji pemanfaatannya masih belum optimal. Untuk industri besar dan terpadu, limbah serbuk kayu gergajian sudah dimanfaatkan menjadi bentuk briket arang dan arang aktif yang dijual secara komersial. Namun untuk industri penggergajian kayu skala industri kecil yang jumlahnya mencapai ribuan unit dan tersebar di pedesaan, limbah ini belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagai contoh adalah pada industri penggergajian di Jambi yang berjumlah 150 buah yang kesemuanya terletak ditepi sungai Batanghari, limbah kayu gergajian yang dihasilkan dibuang ke tepi sungai tersebut sehingga terjadi proses pendangkalan dan pengecilan ruas sungai (Pari, 2002). Pada industri pengolahan kayu sebagian limbah serbuk kayu biasanya digunakan sebagai bahan bakar tungku, atau dibakar begitu saja tanpa penggunaan yang berarti, sehingga dapat menimbulkan pencemaran lingkungan (Febrianto,1999). Dalam rangka efisiensi penggunaan kayu perlu diupayakan pemanfaatan serbuk kayu menjadi produk yang lebih bermanfaat.

DARI LIMBAH PLASTIK KE PLASTIK DAUR ULANG

Nama plastik mewakili ribuan bahan yang berbeda sifat fisis, mekanis, dan kimia. Secara garis besar plastik dapat digolongkan menjadi dua golongan besar, yakni plastik yang bersifat thermoplastic dan yang bersifat thermoset. Thermoplastic dapat dibentuk kembali dengan mudah dan diproses menjadi bentuk lain, sedangkan jenis thermoset bila telah mengeras tidak dapat dilunakkan kembali. Plastik yang paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah dalam bentuk thermoplastic.
Seiring dengan perkembangan teknologi, kebutuhan akan plastik terus meningkat. Data BPS tahun 1999 menunjukkan bahwa volume perdagangan plastik impor Indonesia, terutama polipropilena (PP) pada tahun 1995 sebesar 136.122,7 ton sedangkan pada tahun 1999 sebesar 182.523,6 ton, sehingga dalam kurun waktu tersebut terjadi peningkatan sebesar 34,15%. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya. Sebagai konsekuensinya, peningkatan limbah plastikpun tidak terelakkan. Menurut Hartono (1998) komposisi sampah atau limbah plastik yang dibuang oleh setiap rumah tangga adalah 9,3% dari total sampah rumah tangga. Di Jabotabek rata-rata setiap pabrik menghasilkan satu ton limbah plastik setiap minggunya. Jumlah tersebut akan terus bertambah, disebabkan sifat-sifat yang dimiliki plastik, antara lain tidak dapat membusuk, tidak terurai secara alami, tidak dapat menyerap air, maupun tidak dapat berkarat, dan pada akhirnya akhirnya menjadi masalah bagi lingkungan. (YBP, 1986).
Pemanfaatan limbah plastik merupakan upaya menekan pembuangan plastik seminimal mungkin dan dalam batas tertentu menghemat sumber daya dan mengurangi ketergantungan bahan baku impor. Pemanfaatan limbah plastik dapat dilakukan dengan pemakaian kembali (reuse) maupun daur ulang (recycle). Di Indonesia, pemanfaatan limbah plastik dalam skala rumah tangga umumnya adalah dengan pemakaian kembali dengan keperluan yang berbeda, misalnya tempat cat yang terbuat dari plastik digunakan untuk pot atau ember. Sisi jelek pemakaian kembali, terutama dalam bentuk kemasan adalah sering digunakan untuk pemalsuan produk seperti yang seringkali terjadi di kota-kota besar (Syafitrie, 2001).
Pemanfaatan limbah plastik dengan cara daur ulang umumnya dilakukan oleh industri. Secara umum terdapat empat persyaratan agar suatu limbah plastik dapat diproses oleh suatu industri, antara lain limbah harus dalam bentuk tertentu sesuai kebutuhan (biji, pellet, serbuk, pecahan), limbah harus homogen, tidak terkontaminasi, serta diupayakan tidak teroksidasi. Untuk mengatasi masalah tersebut, sebelum digunakan limbah plastik diproses melalui tahapan sederhana, yaitu pemisahan, pemotongan, pencucian, dan penghilangan zat-zat seperti besi dan sebagainya (Sasse et al.,1995).
Terdapat hal yang menguntungkan dalam pemanfaatan limbah plastik di Indonesia dibandingkan negara maju. Hal ini dimungkinkan karena pemisahan secara manual yang dianggap tidak mungkin dilakukan di negara maju, dapat dilakukan di Indonesia yang mempunyai tenaga kerja melimpah sehingga pemisahan tidak perlu dilakukan dengan peralatan canggih yang memerlukan biaya tinggi. Kondisi ini memungkinkan berkembangnya industri daur ulang plastik di Indonesia (Syafitrie, 2001).
Pemanfaatan plastik daur ulang dalam pembuatan kembali barang-barang plastik telah berkembang pesat. Hampir seluruh jenis limbah plastik (80%) dapat diproses kembali menjadi barang semula walaupun harus dilakukan pencampuran dengan bahan baku baru dan additive untuk meningkatkan kualitas (Syafitrie, 2001). Menurut Hartono (1998) empat jenis limbah plastik yang populer dan laku di pasaran yaitu polietilena (PE), High Density Polyethylene (HDPE), polipropilena (PP), dan asoi

PEMANFAATAN LIMBAH KAYU DAN PLASTIK SEBAGAI KOMPOSIT SERBUK KAYU PLASTIK DAUR ULANG

Komposit kayu merupakan istilah untuk menggambarkan setiap produk yang terbuat dari lembaran atau potongan–potongan kecil kayu yang direkat bersama-sama (Maloney,1996). Mengacu pada pengertian di atas, komposit serbuk kayu plastik adalah komposit yang terbuat dari plastik sebagai matriks dan serbuk kayu sebagai pengisi (filler), yang mempunyai sifat gabungan keduanya. Penambahan filler ke dalam matriks bertujuan mengurangi densitas, meningkatkan kekakuan, dan mengurangi biaya per unit volume. Dari segi kayu, dengan adanya matrik polimer didalamnya maka kekuatan dan sifat fisiknya juga akan meningkat (Febrianto, 1999).
Pembuatan komposit dengan menggunakan matriks dari plastik yang telah didaur ulang, selain dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan kayu, juga dapat mengurangi pembebanan lingkungan terhadap limbah plastik disamping menghasilkan produk inovatif sebagai bahan bangunan pengganti kayu. Keunggulan produk ini antara lain : biaya produksi lebih murah, bahan bakunya melimpah, fleksibel dalam proses pembuatannya, kerapatannya rendah, lebih bersifat biodegradable (dibanding plastik), memiliki sifat-sifat yang lebih baik dibandingkan bahan baku asalnya, dapat diaplikasikan untuk berbagai keperluan, serta bersifat dapat didaur ulang (recycleable). Beberapa contoh penggunaan produk ini antara lain sebagai komponen interior kendaraan (mobil, kereta api, pesawat terbang), perabot rumah tangga, maupun komponen bangunan (jendela, pintu, dinding, lantai dan jembatan) (Febrianto, 1999: Youngquist, 1995).
Serbuk kayu sebagai Filler
Filler ditambahkan ke dalam matriks dengan tujuan meningkatkan sifat-sifat mekanis plastik melalui penyebaran tekanan yang efektif di antara serat dan matriks (Han, 1990). Selain itu penambahan filler akan mengurangi biaya disamping memperbaiki beberapa sifat produknya.
Bahan-bahan inorganik seperti kalsium karbonat, talc, mika, dan fiberglass merupakan bahan yang paling banyak digunakan sebagai filler dalam industri plastik. Penambahan kalsium karbonat, mika dan talc dapat meningkatkan kekuatan plastik, tetapi berat produk yang dihasilkan juga meningkat sehingga biaya pengangkutan menjadi lebih tinggi. Selain itu, kalsium karbonat dan talc bersifat abrasif terhadap peralatan yang digunakan, sehingga memperpendek umur pemakaian. Penambahan fiberglass dapat meningkatkan kekuatan produk tetapi harganya sangat mahal. Karena itu penggunaan bahan organik, seperti kayu sebagai filler dalam industri plastik mulai mendapat perhatian. Di Indonesia potensi kayu sebagai filler sangat besar, terutama limbah serbuk kayu yang pemanfaatannya masih belum optimal.
Menurut Strak dan Berger (1997), serbuk kayu memiliki kelebihan sebagai filler bila dibandingkan dengan filler mineral seperti mika, kalsium karbonat, dan talk yaitu: temperatur proses lebih rendah (kurang dari 400ºF) dengan demikian mengurangi biaya energi, dapat terdegradasi secara alami, berat jenisnya jauh lebih rendah, sehingga biaya per volume lebih murah, gaya geseknya rendah sehingga tidak merusak peralatan pada proses pembuatan, serta berasal dari sumber yang dapat diperbaharui
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan serbuk kayu sebagai filler dalam pembuatan komposit kayu plastik adalah jenis kayu, ukuran serbuk serta nisbah antara serbuk kayu dan plastik. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah sifat dasar dari serbuk kayu itu sendiri. Kayu merupakan bahan yang sebagian besar terdiri dari selulosa (40-50%), hemiselulosa (20-30%), lignin (20-30%), dan sejumlah kecil bahan-bahan anorganik dan ekstraktif. Karenanya kayu bersifat hidrofilik, kaku, serta dapat terdegradasi secara biologis. Sifat-sifat tersebut menyebabkan kayu kurang sesuai bila digabungkan dengan plastik, karena itu dalam pembuatan komposit kayu-plastik diperlukan bantuan coupling agent (Febrianto,1999).
Plastik Daur Ulang Sebagai Matriks
Di Indonesia, plastik daur ulang sebagian besar dimanfaatkan kembali sebagai produk semula dengan kualitas yang lebih rendah. Pemanfaatan plastik daur ulang sebagai bahan konstruksi masih sangat jarang ditemui. Pada tahun 1980 an, di Inggris dan Italia plastik daur ulang telah digunakan untuk membuat tiang telepon sebagai pengganti tiang-tiang kayu atau besi. Di Swedia plastik daur ulang dimanfaatkan sebagai bata plastik untuk pembuatan bangunan bertingkat, karena ringan serta lebih kuat dibandingkan bata yang umum dipakai (YBP, 1986).
Pemanfaatan plastik daur ulang dalam bidang komposit kayu di Indonesia masih terbatas pada tahap penelitian. Ada dua strategi dalam pembuatan komposit kayu dengan memanfaatkan plastik, pertama plastik dijadikan sebagai binder sedangkan kayu sebagai komponen utama; kedua kayu dijadikan bahan pengisi/filler dan plastik sebagai matriksnya. Penelitian mengenai pemanfaatan plastik polipropilena daur ulang sebagai substitusi perekat termoset dalam pembuatan papan partikel telah dilakukan oleh Febrianto dkk (2001). Produk papan partikel yang dihasilkan memiliki stabilitas dimensi dan kekuatan mekanis yang tinggi dibandingkan dengan papan partikel konvensional. Penelitian plastik daur ulang sebagai matriks komposit kayu plastik dilakukan Setyawati (2003) dan Sulaeman (2003) dengan menggunakan plastik polipropilena daur ulang. Dalam pembuatan komposit kayu plastik daur ulang, beberapa polimer termoplastik dapat digunakan sebagai matriks, tetapi dibatasi oleh rendahnya temperatur permulaan dan pemanasan dekomposisi kayu (lebih kurang 200°C).
Proses Pembuatan
Pada dasarnya pembuatan komposit serbuk kayu plastik daur ulang tidak berbeda dengan komposit dengan matriks plastik murni. Komposit ini dapat dibuat melalui proses satu tahap, proses dua tahap, maupun proses kontinyu. Pada proses satu tahap, semua bahan baku dicampur terlebih dahulu secara manual kemudian dimasukkan ke dalam alat pengadon (kneader) dan diproses sampai menghasilkan produk komposit. Pada proses dua tahap bahan baku plastik dimodifikasi terlebih dahulu, kemudian bahan pengisi dicampur secara bersamaan di dalam kneader dan dibentuk menjadi komposit. Kombinasi dari tahap-tahap ini dikenal dengan proses kontinyu. Pada proses ini bahan baku dimasukkan secara bertahap dan berurutan di dalam kneader kemudian diproses sampai menjadi produk komposit (Han dan Shiraishi, 1990). Umumnya proses dua tahap menghasilkan produk yang lebih baik dari proses satu tahap, namun proses satu tahap memerlukan waktu yang lebih singkat.
Diagram proses dasar pembuatan produk disajikan pada gambar
1.Penyiapan filler
Pada prinsipnya penyiapan filler ditujukan untuk mendapatkan serbuk kayu atau tepung kayu dengan ukuran dan kadar air yang seragam. Makin halus serbuk semakin besar kontak permukaan antara filler dengan matriknya, sehingga produk menjadi lebih homogen. Akan tetapi, bila ditinjau dari segi dekoratif, komposit dengan ukuran serbuk yang lebih besar akan menghasilkan penampakkan yang lebih baik karena sebaran serbuk kayunya memberikan nilai tersendiri.
Penyiapan Plastik Daur Ulang
Limbah plastik dikelompokkan sesuai dengan jenis plastiknya (polipropilena (PP),polietilena (PE), dan sebagainya). Setelah dibersihkan, limbah tersebut dicacah untuk memperkecil ukuran, selanjutnya dipanaskan sampai titik lelehnya, kemudian diproses hingga berbentuk pellet. Sebelum digunakan sebagai matriks komposit dilakukan analis termal diferensial (DTA). Pada proses dua tahap, pellet tersebut diblending terlebih dahulu dengan coupling agent sehingga berfungsi sebagai compatibilizer dalam pembuatan komposit.
Blending (Pengadonan)
Tahap-tahap dalam pengadonan ini disesuaikan dengan proses yang digunakan, satu tahap, dua tahap, atau kontinyu. Menurut Han (1990) kondisi pengadonan yang paling berpengaruh dalam pembuatan komposit adalah suhu, laju rotasi, dan waktu pengadonan.
Pembentukan komposit
Setelah proses pencampuran selesai, sampel langsung dikeluarkan untuk dibentuk menjadi lembaran dengan kempa panas. Pengempaan dilakukan selama 2,5 - 3 menit dengan tekanan sebesar 100 kgf/cm2 selama 30 detik pada suhu 170ºC - 190ºC. Setelah dilakukan pengempaan dingin pada tekanan yang sama selama 30 detik, lembaran kemudian didinginkan pada suhu kamar.
Pengujian Komposit
Pengujian komposit dilakukan untuk mengetahui apakah produk yang dihasilkan telah memenuhi persyaratan yang ditentukan untuk suatu penggunaan tertentu. Jenis pengujian disesuaikan dengan kebutuhan, umumnya meliputi pengujian fterhadap sifat fisis, mekanis, serta thermal komposit.
Komposit yang berkualitas tinggi hanya dapat dicapai bila serbuk kayu terdistribusi dengan baik di dalam matriks. Dalam kenyataannya, afinitas antara serbuk kayu dengan plastik sangat rendah karena kayu bersifat hidrofilik sedangkan plastik bersifat hidrofobik. Akibatnya komposit yang terbentuk memiliki sifat-sifat pengaliran dan moldability yang rendah dan pada gilirannya dapat menurunkan kekuatan bahan (Han, 1990).
Hasil-hasil Penelitian
Penelitian-penelitian yang telah dan sedang dilakukan bertujuan untuk menghasilkan komposit kayu plastik dengan sifat-sifat yang terbaik. Han (1990), Stark & Berger (1997), dan Oksman & Clemons (1997), meneliti faktor- faktor yang berperan penting dalam pembuatan komposit serbuk kayu plastik, yaitu tipe dan bentuk bahan baku, jenis kayu, nisbah filler dengan matriks, jenis dan kadar compatibilizer, serta kondisi pada saat pengadonan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai batas tertentu terjadi peningkatan kekuatan komposit dengan makin kecil ukuran serbuk yang digunakan, demikian juga tipe, nisbah serbuk kayu dan plastik, kadar air serta jenis kayu berpengaruh nyata terhadap sifat-sifat komposit yang dihasilkan. Penambahan compatibilizer sampai batas tertentu berpengaruh baik terhadap kekuatan komposit.
Penelitian mengenai komposit kayu plastik sebagian besar masih menggunakan plastik murni sebagai matriks. Penelitian dengan menggunakan matriks daur ulang, dilakukan oleh Setyawati (2003), Sulaeman (2003) dengan menggunakan polipropilena daur ulang. Hasil- hasil penelitian dirangkum sebagai berikut :
Setyawati (2003) meneliti pengaruh ukuran nisbah serbuk kayu dengan matriks, serta kadar compatibilizer terhadap sifat fisis dan mekanis komposit kayu polipropilena daur ulang. Hasil penelitian menunjukkan pola yang sama dengan komposit yang menggunakan polipropilena murni, yaitu sifat–sifat komposit meningkat dengan makin halusnya ukuran partikel. Nisbah serbuk kayu dengan matriks sebesar 50:50 dengan penambahan MAH 2,5% sebagai compatibilizer disertai dengan penambahan inisiator menghasilkan kekuatan komposit yang optimal, disamping sifat-sifat fisis yang memadai.
Sulaeman (2003), meneliti deteriorasi komposit kayu plastik polipropilena daur ulang oleh cuaca dan rayap. Hasil penelitian menunjukkan komposit kayu plastik daur ulang dapat terdegradasi oleh cuaca, akan tetapi tahan terhadap serangan rayap.
Penelitian Yang Sedang/ Akan Dilakukan
Penelitian dan pengujian komposit kayu plastik sampai sejauh ini masih dalam bentuk lembaran tipis, sehingga pengujiannya masih mengacu pada pengujian plastik. Saat ini Sutrisno (komunikasi pribadi) sedang melakukan penelitian mengenai sifat-sifat komposit kayu plastik daur ulang dalam bentuk small clear specimen sehingga pengujian diarahkan kepada kemungkinan penggunaan komposit sebagai pengganti kayu.
Penelitian selanjutnya akan mengarah pada penentuan proses pembuatan papan komposit kayu plastik yang terbaik serta peningkatan mutu papan komposit melalui perlakuan pendahuluan pada filler, pemilihan modifier/compatibilizer, inisiator, penentuan variabel-variabel proses, maupun pemanfaatan bahan-bahan berlignoselulosa selain kayu (rencana penelitian).


PENUTUP

Pembuatan produk komposit serbuk kayu dan plastik daur ulang merupakan salah satu alternatif pemanfaatan limbah kayu dan plastik, dalam rangka meningkatkan efisiensi pemanfaatan kayu, mengurangi pembebanan lingkungan terhadap limbah plastik serta menghasilkan produk-produk inovatif sebagai bahan bangunan pengganti kayu. Pengembangan produk ini di masa datang diharapkan akan memberikan dampak positif, bukan hanya terbatas pada pengembangan industri dan penghematan devisa, tetapi juga memperbaiki kualitas lingkungan hidup.


DAFTAR PUSTAKA

[BPS] Badan Pusat Statistik. 1999. Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia : Impor. Jakarta

[DepHutBun] Departemen Kehutanan dan Perkebunan. 2000. Statistik Kehutanan Indonesia. Direktorat Jendral PHP. Jakarta

Febrianto F. 1999. Preparation And Properties Enhancement Of Moldable Wood – Biodegradable Polymer Composites. [Disertasi]. Kyoto: Kyoto University, Doctoral Dissertation.Division of Forestry and Bio-material Science. Faculty of Agriculture. Tidak dipublikasikan

Febrianto F, Y.S. Hadi, dan M. Karina. 2001. Teknologi produksi recycle komposit bemutu tinggi dari limbah kayu dan plastik : Sifat-sifat papan partikel pada berbagai nisbah campuran serbuk dan plastik polipropilene daur ulang dan ukuran serbuk. Laporan Akhir Hibah Bersaing IX/1. direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.

Han GS. 1990. Preparation and Physical Properties Of Moldable Wood Plastic Composites. [Disertasi]. Kyoto: Kyoto University. Departement Of Wood Science and Technology, Faculty of Agriculture.

Han GS, Shiraishi N. 1990. Composites of wood and polypropylen IV. Wood Research Sociaty at Tsubuka 36(11): 976-982.

Hartono ACK. 1998. Daur Ulang Limbah Plastik dalam Pancaroba : Diplomasi Ekonomi dan Pendidikan. Dana Mitra Lingkungan. Jakarta

Maloney TM. 1993. Modern Particleboard and Dry-Process Fiberboard Manufacturing. San Fransisco: Miller Freeman, Inc.

Meier JF. 1996. Fundamentals of plastics and elastomer. Di dalam: Handbook of Plastic, Elastomer and Composites. Ed ke-3. New York: McGraw-Hill Co.

Oksman K, Clemons C. 1997. Effect of elastomers and coupling agent on impact performance of wood flour-filled polypropilene. Di dalam: Fourth International Conference on Woodfiber-Plastic Composites. Madison, 12 –14 Mei 1997. Wisconsin: Forest Product Sociaty. hlm 144-155.

Pari G. 2002. Teknologi Alternatif Pemanfaatan Limbah Industri Pengolahan Kayu. Makalah M.K. Falsafah Sains. Program Pascasarjana IPB, Bogor.

Priyono SKS. 2001. Komitmen Berbagai Pihak dalam Menanggulangi Illegal Logging. Konggres Kehutanan Indonesia III. Jakarta

Purwanto D, Samet, Mahfuz, dan Sakiman. 1994. Pemanfaatan Limbah Industri Kayu lapis untuk Papan Partikel Buatan secara Laminasi. DIP Proyek Penelitian dan Pengembangan Industri. Badan Penelitian dan Pengembangan Industri. Departemen Perindustrian. Banjar Baru

Sasse HR, Lehmkamper O, Kwasny-Echterhagen R. 1995. Polymer granulates for masonry mortars and outdoor plaster. Di dalam: Ohama Y, editor. Disposal and Recycling of Organic and Polymeric Construction Materials. Proceeding of the International RILEM Workshop. Tokyo: 26-28 Maret 1995. Chapman & Hall. hlm 75-85.

Setyawati,D. 2003. Sifat Fisis dan Mekanis Komposit Serbuk Kayu Plastik Polipropilena Daur Ulang. [Thesis]. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor (tidak dipublikasikan)

Strak NM, Berger MJ. 1997. Effect of particle size on properties of wood-flour reinforced polypropylene composites. Di dalam: Fourth International Conference on Woodfiber-Plastic Composites. Madison, 12 –14 Mei 1997. Wisconsin: Forest Product Sociaty. hlm 134-143.

Sulaeman, R. 2003. Deteriorasi Komposit Serbuk Kayu Plastik Polipropilena Daur Ulang Oleh Cuaca Dan Rayap. [Thesis] Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor (tidak dipublikasikan)

Syahfitrie, C. 2001. Analisis Aspek Sosial Ekonomi Pemanfaatan Limbah Plastik. [Thesis] Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (tidak dipublikasikan)

[YBP] Yayasan Bina Pembangunan. 1986. Barometer Bisnis Plastik Indonesia. Jakarta

Youngquist JA. 1995. Unlikely partners? the marriage of wood and non wood materials. Forest Product Journal 45(10): 25-30.

Read More